Home Kesehatan Demi Pasien, Dokter Di RSUD Ahmad Yani Metro Tak Bisa Sembarang Libur

Demi Pasien, Dokter Di RSUD Ahmad Yani Metro Tak Bisa Sembarang Libur

149
0

Kota Metro, (titikfocus) – Guna melayani dan membantu para pasien sembuh dari covid-19, Dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro tak sembarang bisa libur, serta diharapkan tidak lalai dalam menjaga kesehatannya sendiri, Rabu (30/03).

Ketua Penyakit Infeksi Emerging (PIE), dr. Andreas Infianto, Sp.P(K), FISR, didampingi oleh Kepala Bagian Humas RSUD Ahmad Yani, Ns. Oktarina Handayani, S.Kep, mengaku bersyukur hingga saat ini dirinya belum pernah terpapar covid-19, lantaran selalu menjaga protokol dan asupan suplemen yang cukup, sehingga dapat siap sedia melayani masyarakat yang sedang sakit.

“Alhamdulillah, dari adanya covid-19 sampai dengan hari ini saya belum pernah kena covid-19. Seperti yang kita tahu, selama menangani pasien covid-19, Nakes harus memiliki stamina yang baik, kemudian harus disiplin menggunakan APD dan sampai dengan hari ini para nakes masih rutin diberikan suplemen yang cukup. Resep agar tidak terpapar, ialah asupan suplemen yang cukup, serta hingga sekarang para Nakes tidak pernah mengalami kekurangan suplemen dan APD, yang diberikan oleh pihak rumah sakit dan pemkot,” ujarnya.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 IDI Kota Metro itu juga menyatakan, selama menangani para pasien covid-19 di RSUD Ahmad Yani tak pernah kehabisan stok obat. Uniknya, demi melayani masyarakat Ketua PIE itu tak pernah merasakan hari libur, terkecuali izin karena orangtua sakit dan saat hari raya.

“Bersyukur, saya selama menangani pasien covid-19 tidak pernah kehabisan obat, begitu juga sarana penunjang. Saya melayani pasien di tiga rumah sakit di Lampung ini, termasuk Rumah Sakit Umum Ahmad Yani ini.

Selama pandemi ini, saya tidak pernah libur, palingan saya izin karena orangtua sakit ataupun hanya di hari raya. Jadi kami para nakes tetap koordinasi, contoh misal selagi itu ada pasien yang ingin melahirkan, ya kita panggil dokter yang sesuai bidangnya. Artinya kita tetap koordinasi, tetapi saya sendiri selaku ketua PIE pada setiap malamnya standby menerima laporan, bagaimana keadaan pasien dari masing-masing dokternya. Karena kita kerja tim, dalam hal ini juga kita harus ada prosedurnya, tetap adanya koordinasi,” ungkap dia, kepada redaksi titikfocuss.com.

Kemudian, bagi tenaga kesehatan (Nakes) yang telah gugur pada pandemi ini, ia mengaku merasa sangat sedih. Terlebih, para dokter diharapkan untuk tidak lalai pada kesehatannya sendiri, agar tetap prima dalam melayani para pasien.

“Terkait semua nakes disini yang telah gugur, saya turut berduka dan memang rasanya sedih sekali. Lalu kita kan sebagai dokter, harusnya lebih enak sebetulnya, tinggal hubungi dokter lainnya, ketika dirasa ada yang sakit. Jadi, diharapkan kita yang sebagai dokter pun jangan sampai lalai.

Mereka-mereka yang sudah dipanggil itu, mereka yang memiliki komorbit. Komorbit ialah penyakit penyerta yang memberatkan penyakit dasarnya. Seperti, terpapar covid-19, lalu misalnya ia punya juga penyakit kencing manis, jantung, TBC, dan lain-lain. Sementara covid nya mah tetep aja, berbeda jika ada pasien yang hanya covid, dengan pasien yang terpapar covid tapi ada penyakit penyerta,” kata Dokter Andreas.

Perlu diketahui, bagi pasien yang dirawat di rumah sakit ialah pasien tergolong kategori sedang sampai berat. Sedangkan yang ringan, dirawat dan dipantau oleh dinas kesehatan bersama puskesmas setempat.

“Jadi mereka yang dirawat di rumah sakit, pasien terpapar covid dalam kategori sedang sampai dengan berat. Serta pasien covid yang ringan, dirawat dan dipantau dengan teman-teman di puskesmas bersama dinas kesehatan,” imbuhnya.

Kepada redaksi Titik Focus, Andreas selaku nakes berharap, agar masyarakat dan pemerintah tetap bersinergi dengan erat, bersama-sama dengan nakes, untuk terus menurunkan angka covid dan mengakhiri pandemi ini secepatnya.

“Harapannya, yang pasti kita sama-sama inginnya segera berakhir covid ini. Saat ini juga angka yang terpapar covid mulai menurun di beberapa kota. Kemudian harapan kepada masyarakat, yakni covid tersebut bukan kerjaan nakes saja, tetapi memang ada tiga faktor yang harus berperan, yaitu nakes, lalu peran serta dari pemerintah setempat dan peran serta dari masyarakat. Tiga ini terkait harus bersama-sama berkesinambungan, itulah terbentuknya satgas covid-19.

Saya apresiasi sekali dengan Pemerintah Kota Metro, enggak seperti di daerah lain. Karena di Kota Metro ini dari mulai pemda, nakes dan masyarakat kita sama-sama untuk melawan covid, dari tingkat koordinasinya sangat baik sekali,” jelas Dokter Spesialis lulusan Universitas Brawijaya itu. (Red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here