Lampung Utara, Kotabumi, (titikfocus) — Tokoh pertanian nasional, Ir. Surono Danu, hadir sebagai pembicara utama dalam seminar dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), berlangsung di Gedung Selasa (24/06).
Forum tersebut mengangkat tema Paradoks Kelimpahan dan Solusi Alternatif, dengan fokus pada strategi hilirisasi ubi kayu di daerah Kabupaten Lampung Utara.

Dikenal sebagai Profesor Padi dari Lampung, Surono merupakan sosok yang telah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk pertanian rakyat. Dari pengembangan varietas padi lokal unggul seperti Sertani-1 dan MSP (Emespe), hingga advokasi pertanian berkelanjutan, Surono membawa semangat yang sama dalam mendorong transformasi singkong sebagai komoditas strategis.
“Potensi kita bukan sekadar pada jumlah panen, tapi pada cara kita memberi nilai tambah. Kalau hari ini petani hanya menjual singkong mentah, maka besok mereka harus bisa menjual produk olahan dari tangan mereka sendiri,” ujarnya.
Menurut dia, hilirisasi tidak selalu harus dimulai dari pabrik besar atau investasi asing, melainkan dari infrastruktur desa, pengetahuan lokal dan keinginan bersama.
“Perubahan itu bukan soal alat canggih, tapi keberanian untuk memulai. Kalau petani kita diberi ruang dan diberdayakan, mereka bisa naik kelas jadi produsen, bukan hanya pemasok murah,” lanjutnya.
Surono juga menekankan, pentingnya politik keberpihakan terhadap petani kecil. Bagi dia, singkong bukan komoditas kelas dua, tapi bisa menjadi motor ekonomi desa jika dikelola secara berdaulat.
“Saya percaya, desa-desa di Lampung Utara bisa jadi pusat industri pertanian. Kita punya sumber daya, kita punya rakyat yang siap kerja. Tinggal keberpihakan dan kemauan politik yang konsisten,” tegasnya.

FGD tersebut dihadiri unsur akademisi, pemerintah serta kelompok tani itu menjadi ruang diskusi yang hangat namun strategis. Kehadiran Ir. Surono Danu dengan didampingi Tommy Gunawan Si Anak Beras, memberi energi baru untuk membangun gerakan hilirisasi dari bawah bukan hanya berbasis proyek, tetapi berbasis gerakan rakyat.
Menutup sesi diskusi, Surono Danu menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna, sebuah ajakan reflektif untuk membalik logika pertanian selama ini.
“Kalau kita terus ekspor bahan mentah, nilai tambah akan selalu dinikmati orang lain. Tapi kalau kita berani olah dari desa, bangun dari bawah, saya yakin Lampung Utara bisa jadi contoh untuk Indonesia,” jelas Surono.
Dengan suara lantang dan semangat pengabdian yang tak lekang oleh waktu, Surono meninggalkan forum UMKO dengan satu pesan kuat.
“Bangun dari desa, olah di desa, dan majukan bangsa dari akar rumput.” pungkasnya. (rls).






